Ribetnya Menjaga Obama
JIKA tak ada aral melintang, pertengahan Maret ini Presiden Amerika Serikat Barrack Husein Obama mengadakan lawatan ke Indonesia. Barry Kecil, demikian panggilan akrab Obama semasa masih tinggal di Jakarta tahun 1960-an lalu itu, akan datang atas undangan Presiden SBY. Ini adalah kunjungan pertama Barrack Obama sejak dilantik menjadi presiden adidaya ke 44 ke Indonesia.
Untuk memuluskan kunjungannya ke Indonesia, staf kepresidenan AS sejak awal Februari lalu telah melakukan survey ke beberapa tempat yang bakal dikunjungi presiden pertama AS dari ras negroid ini. Rencana awal, selain mengunjungi SDN Menteng 01 Jakarta Pusat, Obama diagendakan mengunjungi Candi Borobudur Magelang, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Bengkel Lokomotif Kereta Api BalaiYasaYogyakarta.
Namun, rencana Presiden Obama mengadakan lawatan ke Yogyakarta mendadak batal. Sebagai gantinya, Obama mengunjungi Bali. Bagi Bali, ini adalah berkah tersendiri. Untuk kesekian kali, Bali menjadi jujugan pemimpin dunia. Sebelumnya, mantan Presiden AS George W Bush pada 22 Oktober 2003 lalu juga pernah mengunjungi Bali. Belum lagi, pemimpin belahan dunia lain yang memilih Bali sebagai tempat berlibur dan beraktivitas.
Disatu sisi, sebagai krama Bali, kita tentu bangga pulau dewata dipilih sebagai tempat jujugan para pemimpin dunia. Bisa dijamin, jika Bali sukses menjadi tuan rumah bagi Presiden Obama, efek dominonya bagi dunia pariwisata sangat luar biasa. Meski tidak langsung, secara berlahan, investor akan berbondong-bondong menanamkan investasinya di Bali. Perekonomian pun akhirnya bergerak secara simultan.
Tapi, kita juga patut mengelus dada melihat ribetnya penjagaan mereka sehingga menafikan kenyamanan krama Bali yang sedang beraktivitas. Betapa tidak, untuk menyambut Obama, penerbangan regular di Bandara Ngurah Rai setengah jam sebelum mendarat (landing) dan setengah jam sesudah terbang (take off) akan dihentikan. Selain itu, seluruh akses ke Bandara Ngurah Rai, baik dari arah Kuta maupun Nusa Dua bakal ditutup.
Para penumpang pesawat juga dipaksa berjalan kaki dari pertigaan patung Ngurah Rai (di ruas jalan Bypass menuju Nusa Dua) menuju bandara. Praktis untuk beberapa jam, aktivitas perekonomian masyarakat bakal terhenti. Pengamanan Presiden Obama, juga bisa dibilang gila-gilaan. Total, 9000 aparat TNI/Polri dikerahkan Paspampres. Belum lagi tiga pesawat canggih F-16 dan helikopter yang standbay di Lanud Bandara Ngurah Rai.
Itupun belum cukup. Kemungkinan besar US Navy akan menyiagakan kapal induknya di perairan pulau Jawa, sebagai “safe house” dalam keadaan emergency. Kapal induk itu akan menyiagakan pesawat tempur, dan akan terus menerus memonitor gerakan Air Force One terhadap kemungkinan ancaman di udara selama berada di wilayah udara Indonesia. Ketatnya pengamanan ini bisa jadi karena Indonesia masih jadi sasaran utama kelompok teroris.
Bukti terbaru, kelompok teroris menjadikan Aceh sebagai base camp untuk menjadikan wilayah itu sebagai Mindanao kedua. Dari Aceh, direncanakan serangan untuk melumpuhkan Jakarta dan wilayah strategis di Indonesia. Menjadi tak heran, kalau kemudian pengamanan Presiden Obama saat bertandang ke Indonesia, sedemikian ketat. Meski demikian, tak seharusnya kedatangan orang nomer satu uncle sam ini justru membuat karma Bali menjadi tak nyaman dan aman.(*)
-
Search It!
-
Recent Entries
-
Links