CERITA langka bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di Pelabuhan Benoa, Bali, bukan kali ini saja terjadi. Hampir tiga empat tahun terakhir, para nelayan yang mangkal di pelabuhan terbesar di Bali ini mengeluhkan minimnya pasokan minyak solar pada bulan Juni hingga Juli. Dampak yang dirasakan akibat kejadian ini, ratusan kapal penangkap ikan tidak bisa melaut. Total, jumlah kapal nelayan yang tidak bisa melaut saat ini membengkak dari sebelumnya 600 unit kapal menjadi sekitar 750 unit.
Banyaknya jumlah kapal yang tidak melaut disatu sisi bisa menganggu aktivitas pelabuhan. Maklum, pelabuhan Benoa bukan hanya diperuntukkan untuk pelabuhan nelayan tapi juga kapal pesiar dan kapal barang. Banyaknya kapal nelayan yang “terparkir” dikhawatirkan aparat keamanan menganggu keamanan dan keamanan kawasan pelabuhan itu. Maklum, dengan tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan, potensi anak buah kapal (ABK) melakukan tindak pidana sangat besar.
Tercatat saat ini jumlah ABK yang sedang menunggu nasib mencapai 9 ribu orang lebih. Banyaknya massa berkumpul tanpa pekerjaan jelas, berpotensi menganggu keamanan. Yang paling fatal, disamping menganggu keamanan, potensi pemerintah daerah kehilangan devisa dari sektor perikanan sangat besar terjadi. Sementara, sektor perikanan menjadi salah satu urat nadi perekonomian Bali disamping sektor pariwisata yang menjadi penyumbang PAD
terbesar selama ini.
Data Dinas Kelautan dan Perikanan Bali pada 2007 sendiri mencatat, produksi ikan tuna dari Bali mencapai 37,177 ton, sedangkan 2008 meningkat 25,26 persen menjadi 46.557 ton. Volume ekspor pada 2007 juga meningkat tujuh persen dari 29.843 ton menjadi 32.171 ton pada 2008. Untuk nilai ekspor pada 2007 mencapai USD 84 juta, meningkat 26 persen menjadi USD 106, 23 juta. Nilai eksport inipun hanya untuk komoditas tuna, belum untuk ikan hias dan ikan jenis lain yang melalui pelabuhan Benoa.
Fakta ini membuktikan, potensi perikanan Bali sangat besar. Untuk itu, Pemprov Bali harus turun tangan dengan mendesak Pertamina untuk segera mengambil langkah mengatasi kelangkaan minyak solar yang terjadi di pelabuhan Benoa. Desakan kepada Pemprov Bali patut disuarakan mengingat tidak cukup hanya Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) yang bersuara. Karena meski ATLI dengan lantang terus bersuara, toh hingga kini kelangkaan solar belum bisa teratasi.
Memang, sudah ada janji Pertamina akan mendistribusikan solar bersubsidi pasca ada pertemuan dengan ATLI Senin (8/6) lalu. Namun, janji itu harus tetap dikawal dengan melakukan pengawasan secara menyeluruh terhadap kinerja Pertamina. Maklum, perusahaan plat merah ini selalu mencari dalih bahwa kebijakan yang telah ditelurkan tidak salah. Pertamina berdalih ngadatnya suplai solar karena ada persyaratan administrasi yang belum dipenuhi pengusaha kapal. Diharapkan, dengan pengawasan bersama, kelangkaan solar di pelabuhan Benoa tidak terjadi lagi seperti sekarang.(*)
-
Search It!
-
Recent Entries
-
Links